nama: ratna wati
nim: 09340088
jur: pendidikan sastra indonesia s1
alamat: jalan raya amadanom selatan, dampit-malang
alamat kos: jalan sunan kali jogo no 20(blakang UIN)
MOTTO; hadapi masalah dengan kebahagiaan
nama: ratna wati
nim: 09340088
jur: pendidikan sastra indonesia s1
alamat: jalan raya amadanom selatan, dampit-malang
alamat kos: jalan sunan kali jogo no 20(blakang UIN)
MOTTO; hadapi masalah dengan kebahagiaan
Air Minum Beroksigen & HeksagonalBIKIN BADAN TAMBAH FIT & USIR PENYAKIT?
Dengan alasan gaya hidup sehat, air minum dengan kandungan oksigen dan heksagonal gencar dipasarkan. Katanya, sih, bisa bikin badan jadi lebih fit. Padahal ada teori yang menyatakan, kalau oksigen terlalu banyak masuk ke dalam tubuh, bisa memicu timbulnya radikal bebas. Jadi?
Apa beda air minum dalam kemasan dengan air biasa? Menurut Dr. Rimbawan dari Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga Fakultas Pertanian, IPB, “Umumnya, air minum biasa (air minum dari keran rumah) hanya memiliki kandungan oksigen 5 – 7 ppm/liter, sementara air minum dari mata air pegunungan memiliki 10 – 12 ppm/liter. Air ini terasa lebih dingin dan sejuk karena kandungan oksigennya yang lebih tinggi.”
Air minum dari mata air pegunungan biasanya terasa lebih segar saat diminum. “Bisa diasumsikan, bila kandungan oksigen dalam air lebih banyak, air pun lebih segar. Semakin rendah temperatur, oksigen yang terlarut dalam air meningkat. Ini seperti ketika kita minum air es. Rasanya lebih segar dibanding air biasa. Intinya, oksigen membuat tubuh menjadi lebih segar,” paparnya.
Namun, secara alamiah, kebutuhan tubuh akan oksigen diperoleh melalui saluran pernapasan. Semua proses dalam tubuh manusia memerlukan oksigen. Oksigen dihirup melalui hidung, masuk ke paru-paru. Tapi udara yang tercemar polusi membuat kandungan oksigen pun makin rendah.
OKSIGEN MENINGKAT
Salah satu upaya meningkatkan kadar oksigen yang masuk ke dalam tubuh adalah dengan air minum kemasan. “Dalam air minum kemasan, kadar oksigennya ditambah sehingga ada yang disebut air minum beroksigen dan air heksagonal,” jelas Rimbawan.
Bentuk molekul air dalam keadaan normal seperti huruf V. Secara alamiah, kandungan oksigen dalam air biasa masih rendah. Kemajuan ilmu pengetahuan membuat kadar oksigen dalam air dipaksa meningkat. “Namun, begitu air berubah menjadi es, bentuknya akan tertata rapi dan muncul rongga-rongga. Ini membuat oksigen terjerembap masuk di dalamnya,” terang Rimbawan.
Teknik inilah yang dipakai produsen untuk meningkatkan kadar oksigen dalam air. Sementara teknik pembuatan air heksagonal memerlukan teknologi yang lebih kompleks. Kandungan oksigen pada heksagonal pun lebih tinggi dibanding air minum beroksigen. Secara teori, kandungan oksigen dalam air mendatangkan manfaat positif bagi tubuh.
Namun, teknologi ini masih menyimpan pertanyaan besar. “Apakah benar oksigen yang terlarut dalam air tersebut dapat bertahan hingga bisa diserap usus?” ujar Rimbawan yang mengakui, penelitian tentang kadar oksigen dalam air minum kemasan belum banyak dilakukan.
Salah seorang yang melakukan penelitian tentang penyerapan air beroksigen dalam usus adalah Prof. Dr. Olaf Adam dari Lembaga Farmakologi dan Toksikologi Walter Straub di Universitas Ludwig-Maximilian, Munich, Jerman.
“Hasilnya, asal kadarnya 80 ppm dan diberikan percobaan pada kelinci, ternyata dapat meningkatkan oksigen dalam darah. Tapi percobaan ini belum dilakukan pada manusia,” lanjut Rimbawan.
Tentang pembuatan air minum beroksigen dan air heksagonal, lanjutnya, “Tujuannya memang bagus, meningkatkan kadar oksigen dalam tubuh. Tapi harus dipastikan tubuh memang benar-benar memerlukan dan membutuhkan tambahan oksigen. Sebab, belum diketahui secara pasti, apa efek samping konsumsi air beroksigen secara terus-menerus.”
Menurut Rimbawan, ada beberapa kriteria seseorang dikatakan membutuhkan tambahan oksigen dalam tubuhnya. Di antaranya, mereka yang merasa cepat lelah saat berolahraga. “Ada juga penelitian yang menunjukkan seorang olahragawan yang diberi minum air beroksigen, phyisical endurance-nya menjadi lebih lama, kurang-lebih 28 detik. Untuk seorang pelari, waktu 28 detik ini tentu sangat berarti. Tapi ini juga masih kontroversial, karena buktinya masih terbatas,” ungkap Rimbawan.
“The True Power Of Water” oleh Dr Masaru Emoto, pakar perubatan afternatif yang
menggunakan air sebagai media penyembuhan. Pakar tersebut dibantu oleh Kazuya Ishibasi, seorang pakar mengambil gambar kristal-kristal air melalui mikroskop tercanggih.
Dr Masaru Emoto dari Universiti Yokohama, Jepun telah membuat kajian pada bulan Mac tahun 2005 juga menulis buku “the Hidden Massage in Water” ( Pesan Tersembunyl di datam air). Melalui kajian demi kajian yang tetah dibuat oleh Dr Masaru tetah terbukti bahawa air mampu merespons dengan baik perlakuan dan maklumat yang diberikan kepadanya, datam bentuk tulisan, gambar bahkan kata-kata atau suara. Bersama pembantunya Kazuya, kristal-kristal air ditemui terakam dalam gambar apabila air dibekukan pada suhu -25”C menggunakan kamera berteknologi tinggi. Bentuk kristal yang dihasilkan dalam pelbagai bentuk bergantung kepada maklumat yang diberikan kepada air. Menurutnya air mampu merakam pesan, seperti pita magnetik atau compact disk.
Mokekul air akan membentuk kristal yang paling indah adalah air yang diberi kata-kata “cinta” dan “terima kasih”. Sebaliknya molekul air membentuk kristal yang tidak cantik bahkan membentuk lingkaran yang berlubang di tengahnya apabila dikatakan padanya “kamu tidak berguna” atau “kamu bodoh” .
Apabila kita biasa menyatakan terima kasih, sentiasa bersyukur dan dihiasi perasaan cinta dalam kehidupan, kita telah berjaya membentuk air datam tubuh kita menjadi kristal-kristal heksagonal yang sangat bermanfaat untuk kesihatan kita. Sebaliknya jika keadaan hidup kita sentiasa tertekan dengan kejahilan, kebodohan, tidak bersyukur, sentiasa bermusuhan dan membenci, tidak redha dan banyak komen, maka kita tidak akan pernah mendapatkan kristal-kristal air yang cantik dan indah dalam badan kita. Kesihatan dan emosi selalu terganggu, sedangkan air heksagonal sangat berguna untuk mengeluarkan toksid-toksid ( racun-racun) dalam badan kita.
Air heksagonal adalah air yang berperanan untuk mengikat radikal bebas H+ dan OH. Oleh sebab itu apabila air seperti ini dibekalkan dalam badan kita atau terdapat dalam badan, maka akah terdapat reaksi atau tindak balas, rasa tidak sedap badan, bersin, batuk, mual, berpeluh-peluh, sering buang air kecil mahupun air besar. Reaksi seperti ini adalah tindak balas yang menggambarkan kemungkinan bertimbunnya toksid dalam badan kita. Tindak balas ini disebut sebagai detox effect atau homeostatic.
Percaya atau tidak, oksigen yang biasanya dihirup kini juga bisa dikonsumsi lewat air minum. Lebih segar rasanya.
Namun bagaimana manfaatnya?
Air dan oksigen syarat mutlak bagi kehidupan.
Tanpa air metabolisme di dalam tubuh tidak bisa jalan. Berhubung sebagian besar (70%) tubuh kita berupa air, kita masih boleh hidup satu minggu lagi tanpa minum air.
Tanpa oksigen tubuh tak sanggup membakar glukosa hasil proses pencernaan makanan menjadi energi yang kita gunakan untuk beraktivitas. Dalam hitungan menit tanpa suplai 02, kita bablas, dan gelar “anumerta” pun tersemat.
Karena sama pentingnya, terbit pikiran-pikiran kreatif di kalangan industriawan untuk menciptakan air tinggi oksigen. Minuman hasil kolaborasi antara air dan zat asam itu kini sudah banyak beredar di pasaran. Ada yang dipasarkan dalam bentuk kemasan botol siap minum. Ada juga yang harus diperoleh lewat sebuah teko “ajaib”. Teko itu yang ditawarkan kepada konsumen, karena bisa menyulap air biasa menjadi air tinggi oksigen.
Kelihatannya, persaingan produk-produk macam itu berlangsung seru. Teristimewa karena hampir semua produk diiklankan sebagai minuman kesehatan yang bisa mencegah dan mengusir berbagai gangguan kesehatan dan penyakit.
Sering Buang Air
Zat asam ini dikonsumsi dan diproses oleh sel tubuh secepat sistem pernapasan menyerap oksigen dari udara. Dengan minum air beroksigen, kebutuhan zat asam saat itu juga dapat terpenuhi.
Untuk memperoleh manfaat maksimal, minuman bening ini disarankan agar diminum dua botol per hari, sebelum atau sesudah makan. Jika diminum secara teratur, masih menurut Daniel, stamina dan vitalitas tubuh berangsur prima. Penampilan pun segar senantiasa.
Daniel mengungkapkan, produk yang dia pasarkan diolah dengan teknologi impor bikinan Jerman.
Lewat teknologi itu, molekul oksigen diikatkan pada molekul-molekul air biasa. Selanjutnya, air yang sudah ditempeli oksigen itu dikemas dalam keadaan mampat bertekanan. Dengan proses ini bisa diperoleh kadar oksigen 80 ppm (8 mg oksigen/100 g air).
Air beroksigen dalam kemasan botol memang praktis. Tinggal buka tutupnya, langsung diminum isinya. Kalau menggunakan Actimo, nama teko “ajaib” buatan Korea itu, harus menunggu lebih dulu. Namun, alat itu dipromosikan dapat mengubah air biasa menjadi air heksagonal yang juga mengandung oksigen.
Meski produknya tidak dinyatakan sebagai air heksagonal, kata Daniel, kadar oksigen yang terlarut tak jauh beda dengan air heksagonal.
Akan tetapi Wiwit, staf pemasaran Actimo, bercerita, air heksagonal punya kelebihan. Salah satunya, lebih mudah diserap oleh tubuh dibandingkan dengan air biasa. Itu sebabnya, air heksagonal lebih mudah masuk ke dalam sel tubuh untuk mengangkut nutrisi dan membuang racun hasil metabolisme sel.
Wiwit juga bertutur, air heksagonal mampu membuat tubuh selalu bugar, menyembuhkan pelbagai macam penyakit, bahkan bisa digunakan untuk tujuan kecantikan. Saat pertama kali diminum, air heksagonal akan membuat Anda buang air kecil 3 – 4 kali dalam satu jam. Jangan khawatir, itu hanyalah indikasi proses pembersihan tubuh dan sisa metabolisme.
Dari berbagai produk air beroksigen itu, tampaknya air heksagonal inilah yang paling fenomenal dan sulit dijelaskan pada awam.
“Air kok dibikin segi enam. Mana bisa?” orang pun bertanya. Ada teknologi apa sebenarnya di balik misteri air heksagonal itu?
Sistem Cluster
Namun, secara kimiawi semuanya disebut air. Satu molekul air (H20) berupa dua atom hidrogen (H) yang diikat oleh satu atom oksigen (0). Ketiganya terikat dalam bentuk kaku, menyerupai huruf “V” bersudut 104,5 derajat. Atom 0 berada di bagian sudut huruf “V”, sedangkan masing-masing H berada di ujung kedua kakinya.
Dalam setetes air terkandung miliaran molekul air. Anda bisa membayangkannya, miliaran huruf “V” berjejalan dan terus-menerus bergerak secara acak. Kondisinya hiruk-pikuk dan tak beraturan. Namun, dalam keadaan tertentu molekul-molekul air ini bisa berbaris tertib. Misalnya, dalam keadaan padat sebagai es atau salju.
Dalam bentuk es atau salju, secara alamiah molekul-molekul air berbaris rapi. Setiap enam molekul bergandeng tangan lewat ikatan hidrogen, membentuk suatu water cluster (klaster air) yang berstruktur cincin segi enam (heksagonal).
Karena klasternya berbentuk segi enam, maka di antara enam molekul itu terdapat sebuah ruang kosong, yang ukurannya lebih besar dari ukuran molekul air itu sendiri. Itu sebabnya ketika membeku, air memuai karena memakan ruang lebih besar. Di ruang ini molekul oksigen bisa terjebak, tak bisa meloloskan diri. Alhasil, struktur air heksagonal ini mengandung jumlah oksigen lebih banyak daripada struktur air biasa.
Dr. Bambang Ariwahjoedi, M.Sc. Tech., dari Departemen Kimia, Fakultas MIPA, Institut Teknologi Bandung, bilang, klaster air bisa terbentuk secana spontan di alam. Syaratnya, temperatur cukup dingin (0 – 40C) dan ada molekul selain air yang terlarut. Kondisi ini terjadi, misalnya, pada air-air pegunungan yang suhunya cukup rendah dan mengandung cukup mineral terlarut.
Bagaimana dengan air dalam kemasan?
Di sinilah hebatnya ilmuwan. Meski tidak beku, molekul air bisa “dipaksa” bergandeng tangan dengan bantuan kekuatan medan magnet dan sinar inframerah, sehingga membentuk struktur heksagonal.
Strukturnya bisa ditata begitu rupa, karena molekul air memiliki sifat-sifat elektrik dan magnetik.
Namun, daya paksa ini punya keterbatasan. Jika suhu air dinaikkan, molekul-molekul air itu mendapat energi untuk melawan. Akibatnya, struktur heksagonal terurai. Air heksagonal pun berubah menjadi air biasa. Oksigen yang semula terjebak, bisa lenggang kangkung meloloskan diri.
Langsung Diminum
Sebagai gambaran, pada suhu 30 derajat C, kelarutan oksigen akan turun separuh dibanding pada es. “Jangan heran kalau minum air es, terasa lebih segar ketimbang air hangat, karena kandungan oksigen dalam air es lebih tinggi,” kata Dr. Zeily Nurachman, kolega Bambang di ITB.
Titik kritis terjadi pada suhu l00 derajat C. Pada suhu didih tak ada lagi oksigen yang terlarut, alias nol. Sifrun, kata orang Arab. Dengan kalimat lain, manfaat air heksagonal sebagai pembawa oksigen akan tinggal cerita jika dipakai dengan cara dimasak.
Dr. dr. Septelia Inawati Wanandi, dari Bagian Biokimia dan Biologi Molekuler Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, bilang, air heksagonal memang sangat labil, karena menentang struktur alami air. Selain rentan suhu, ia juga bisa terurai selama masa penyimpanan.
Itu sebabnya sebagian produsen menyarankan, air heksagonal diminum kurang dari 20 menit sejak disiapkan. Sebagian yang lain menyarankan, produknya disimpan dalam lemari es bersuhu 8 derajat C, serta terhindar dari cahaya Matahari langsung.
Secara kasat mata, penampilan air heksagonal maupun air beroksigen tinggi tak jauh berbeda dengan air minum dalam kemasan. Sama-sama bening dan menjadi plin-plan jika berada di atas daun talas. Perbedaan kandungan oksigen hanya bisa diketahui dari uji oksigen terlarut (dissolved oxygen, DO).
Untuk membuktikan adanya struktur heksagonal dibutuhkan sejumlah peralatan canggih, seperti nuclear magnetic resonance (NMR). Uniknya, di pasaran kini juga beredar produk air heksagonal dalam kemasan yang harganya tak jauh beda dengan harga air minum biasa dalam kemasan. Padahal, untuk memproduksi air heksagonal dibutuhkan peralatan canggih dan tentu saja biaya mahal.
Jadi, itu air heksagonal beneran atau jadi-jadian?
Sulit Diuji
Pembuatan air heksagonal membutuhkan campur tangan energi yang dipaksakan, misalnya energi magnetik atau getaran. Penggunaan energi yang dipaksakan ini bisa berdampak dilepaskannya banyak radikal bebas. Namun, ini tidak berarti air heksagonal yang terurai pasti berbahaya buat kesehatan.
“Belum ada penelitian yang mendukungnya,” papar Septelia.
Tentang berbagai khasiat air heksagonal yang dipromosikan, Septelia menuturkan, umumnya klaim khasiat itu didasarkan pada pengalaman beberapa orang saja.
Padahal menurut ilmu kedokteran, klaim manfaat sebuah produk seharusnya didasarkan pada data uji klinik. Bisa saja kesembuhan itu bersifat individual atau berasal dari efek sugesti. Bukan efek sesungguhnya.
Senada dengan itu, Bambang berpendapat, bisa saja efek yang terjadi hanya efek plasebo. Sebab, menurut dia, organ yang didesain untuk menyerap oksigen adalah paru-paru, bukan usus.
Tanpa bermaksud menunjuk sebuah produk, Septelia menganalogikannya dengan terapi oksigen hiperbarik. Lulusan University of Marburg, Jerman, ini menyarankan, sebaiknya pemberian oksigen yang dipaksakan itu dilakukan dalam periode tertentu (bukan terus-menerus), hanya sebagai semacam terapi kejut. Tujuannya untuk menghasilkan radikal bebas dalam jumlah tertentu yang diharapkan dapat “membangunkan” produksi antioksidan tubuh yang “tertidur”.
Masih menurut Septelia, wajar jika seseorang mencoba salah satu produk air heksagonal ketika sakitnya sulit atau tidak dapat disembuhkan dengan obat-obat biasa. Apalagi, produk yang dicoba relatif tidak mahal dan tidak berbahaya. Bukan hanya air heksagonal, minum banyak air biasa pun bermanfaat buat kesehatan. Kecuali, tentu saja, bagi mereka yang ginjalnya sudah terganggu.
Bambang sependapat. Menurut dia, bisa saja produk-produk itu betul punya manfaat buat orang-orang tertentu. “Bila ada orang merasa sembuh setelah minum air itu, boleh jadi dia memang sedang membutuhkan,” terangnya. Meskipun hingga kini belum ada bukti ilmiahnya, kemungkinan produk-produk itu berjaya tetap terbuka.
Jadi, tidak salah jika Anda ingin menjajal khasiat “air sakti” ini. Tapi untuk sementara, jangan kuciwa kalau hasilnya tak sesuai harapan. Nikmati saja minuman itu seperti Anda menikmati soft drink tanpa soda. Jangan lupa, saat menenggak, katakan dengan penuh keyakinan, “Kutahu yang kuminum!” (intisari)
Desember 10, 2007 — Harry
Michael R.Long, Pakar air USA dan ahli kualitas air (WQA), menyatakan:
Tidak ada filter di dunia yang dapat membedakan antara mineral-mineral ?baik? dan ?tidak baik? selama proses filtrasi.
Banyak pakar menyatakan bahwa mineral-mineral yang diperlukan oleh tubuh, bukan berasal dari air:
1.Dr.Norman W.Walker, Ph.D dalam Jurnal nutrisis kimia dan penelitian saintifik Norwalk, New York menyatakan : ?Mineral ? mineral dalam air bukan organik dan tidak dapat diserap oleh tubuh kita?
2.Dr.Paul Bragg,N.D.Ph.D, dalam bukunya: ?The Shocking Truth About Water??Mineral bukan organik yang terdapat dalam air, bila masuk ke dalam tubuh akan mengendap karena tidak dapat diserap oleh tubuh kita?
3.Harvey and Marlyn Diamont, dari buku berjudul : Fit For Life?, Warner books-ms.35,1985.?Air dari mata air pegunungan tidak sesuai untuk tubuh manusia karena mengandung mineral-mineral bukan organik yang tidak diperlukan,tidak dapat diurai dan tidak dapat dikeluarkan oleh tubuh, mineral-mineral ini dapat bercampur dengan kolestrol dalam darah sehingga mudah terbentuk plak tebal dalam saluran darah.
4. Allan McDaniel,M..D.,dalam bukuya: ? Water—what’s in it for you?? menyatakan:
?Tidak ada nutrisi yang penting yang larut dalam air yang diperlukan oleh manusia untuk kehidupan atau kesejahteraan. Semua nutrisi yang penting dapat diperoleh dari makanan dan suplemen makanan yang baik.
Tahukah Anda ?
Air mendidih / dimasak itu :
* Hanya berfungsi untuk membunuh bakteri, tapi sisa bahan pencemaran lainnya tetap tertinggal dalam air.
* Mempercepat reaksi antara bahan organik untuk bergabung dengan klorin yang membentuk triklorometana.
* Pada saat mendidih terjadi uap air (penguapan). Hal ini menyebabkan bertambahnya kepekatan bahan pencemaran air dan sisa kalsium.
* Hasilnya dianggap seagai ?AIR MATI? karena kekurangan oksigen dan berbau.
From: Dr.(Naturopathy) Ir. Donny Hosea MBA. PhD.
Date: 09/22/06 10:48:45
To: dokter_umum@yahoogroups.com
Subject: Re: [Dokter Umum] Fw: Air mineral.
Hello Bung Jusuf n Bung Sinata,
Peralatan yg anda sebutkan di bawah, merupakan peralatan yg sangat baik
utk menjadikan visualisasi sedimen pada air minum terlihat dg sangat jelas.
Alatnya sebenarnya mengangkat proses elektrolisa yg kemudian membuat
sedimen terurai, bisa bersenyawa dg electroda (Aluminuium) dan
menampilkan butiran kasat mata dg disertai warna gelab, hijau, dan
mengambang dipermukaan.
Peralatan bekerja dg prinsip Ph (derajat keasaman) sang air periksa,
semakin asam semakin berkerak dan berwarna kehijauan sampai hitam,
sebaliknya semakin basa, semakin murni sedimen air terlihat; dan
penguraian sedimen menjadi kristal kasat mata.
Jadi kalau anda memeriksakan air yg hendak diminum, lalu muncul sedimen
yg berwarna kehijauan, maka berarti air minum anda disamping mengandung
sedimen, juga bersifat asam; sebaliknya bila sedimen hanya berwarna
seperti kapur, maka bisa dikatakan air minum anda mungkin bersifat basa
(Ph lebih besar dari 7)
Menurut WHO, air bisa diminum dg PH 6.5 – 8.5, sementara sedimen tdk
diperhitungkan, tetapi menurut yg saya pelajari, derajat keasaman dan
sedimen sangat mempengaruhi pencernaan, dan berakibat bagi adanya
gangguan baik lambung mau pun ginjal dan pembuluh darah.
Jadi terlepas dari caranya utk memanfaatkan peralatan utk show kepada
anda, tetapi apa yg dikatakn itu adalah benar, kalau mau minum air,
minumlah yg paling kecil atau paling sedikit sediman nya, dg ph yg kalau
bisa 7 tanpa bahan kimia,
Selama 5 tahunan saya minum air M yg sekarang sdh tengelam, saya
mendapatkan gangguan ginjal yg cukup berarti yg hampir menggagalkan misi
saya di Korea waktu itu, tetapi itu juga karena saya masih menggunakan
methoda medis dan belum belajar Naturopathy jadi belum mendapat
penjabarannya.
Kalau setiap hari anda bergerak, meloncat sana sini, mengerakan kaki
anda sedemikian, sehingga organ dlm tubuh anda ikut bergerak, maka air
minela alias air yg mengandung mineral boleh anda konsumsikan kerena dg
pergerakan tadi, kemungkinan endapan plague pada ginjal boleh dikatan
ikut terlempar ketika anda bergerak.
Tetapi bukan berarti bahwa anda tdk rawan dari penimbunan sedimen di
pembuluh darah??
Mineral yg terkandung dalam air adalah trace mineral dlm bentuk yg jauh
lebih besar dari yg bisa diserap tubuh, sisanya adalah
mineral dlm from anorganik yg tdk bisa diserap oleh tubuh tetapi bisa
diserap oleh tumbuhan yg dg proses fotosintesa akan dibuatkan organik
mineral yg ada pada akar, batang daun bunga dan buahnya tumbuhan.
Jadi kalau mencari mineral, gunakan tumbuhan sebagai organik mineral
bukan menggunakan air mineral yg anorganik mineral sebagi mineral bagi
manusia, karena mineral anorganik ini tdk bisa diserap dan hanya akan
menjadi penyumbat pembuluh darah dan timbunan batu di ginjal.
Jadi bagaimana dg anda, apakah anda bisa loncat2 setiap hari dan bukan
sekedar jalan kaki slowly but sure?
Apakah anda bisa naik turun tangga dg menjedukan tubuh anda sehingga
seluruh organ dalam bergerak? (ini yg saya lakukan sebagai terapi ketika
mengalami batu ginjal di Korea). bila bisa maka anda boleh saja
mengkonsumsi air mineral.
Dalam hasil survey anak saya secra on the spot, di Jakarta Barat,
seluruh air isi ulang yg didatangin, memproduksi air dg pola RO (reverse
osmosis) dg hasil kandungan TDS nya beranjak dari 40, pada hal RO bisa
menghasilkan TDS dibawah 10, mendekati air suling.
Kandungan TDS 40 ini memang lebih baik dari air PDAM yg mendekati 70-90,
tetapi berarti chance utk mengalami gangguan lebih besar dibanding TDS
lebih kecil dari 10 kan?
Nah dg TDS 10 ini kalau diperiksa dg alat tersebut dlm mail ini, maka
hasilnya tdk terlihat adanya sedimen pada air tersebut.
Jadi kesimpulannya berpulang pada anda, mau berjaga 2 dg pengetahuan yg
ada agar lebih sehat, atau tetap mengumpankan pada tubuh dg standard
dunia bahwa itu tdk berbahaya.
Melanjutkan artikel pengalamanku menurunkan berat badan, dibawah ini aku rasa tinjauan dari sisi ilmunya…malah ada tips-tips tambahan yang sangat mungkin menyempurnakan apa yang telah aku lakukan
Tubuh perlu ditipu
Oleh : dr Phaidon L Toruan MM. TIPUAN AREOBIK Tipuan ini bisa dimanfaatkan untuk membuat olahraga yang Anda lakukan maksimal hasilnya. Bagaimana triknya?
TIPUAN DIET Seperti olahraga, tubuh pun bisa ditipu agar tidak terlalu banyak memasukkan lemak. Cara yang diungkapkan Phaidon adalah:
Penulis: Mahani SP MSi, Ahli Gizi pada Pusat Konsultasi Gizi “Sehati” Bogor
Akhir-akhir ini pasaran air minum dimarakkan oleh munculnya produk air terbaru, yaitu air beroksigen dan air heksagonal. Kehadiran kedua produk air tersebut tentu saja mengundang rasa penasaran banyak kalangan.
Tidak sedikit yang bertanya, apa bedanya air beroksigen dan air heksagonal dengan air biasa? Benarkah kedua produk air tersebut begitu hebat seperti yang diiklankan? Tulisan ini menyoroti air heksagonal karena memiliki banyak perbedaan dibandingkan dengan kedua jenis air lainnya.
Ketiga jenis produk air tersebut sebenarnya memiliki kesamaan, yaitu tersusun atas 2 atom hidrogen dan 1 atom oksigen (H2O). Air biasa (kalau yang dimaksud adalah air minum botolan) adalah air yang telah diproses sehingga menghasilkan air yang layak minum berdasarkan standar air minum yang sehat. Sementara, air beroksigen adalah air minum yang dibuat secara khusus, dengan tekanan dan suhu tertentu, yang memungkinkan air itu mampu menangkap oksigen lebih banyak. Boleh dikatakan, air biasa dan air beroksigen persis sama. Hanya terdapat perbedaan pada kandungan oksigen terlarutnya.
Kelarutan oksigen dalam air sangat rendah. Pada suhu 20° kelarutan oksigen dalam air (tekanan 1 atm) sekitar 0.0045 mg O2/100 mg air. Apabila ditambahkan oksigen ke dalamnya, air secara perlahan akan melepaskan oksigen kembali ke alam. Oleh karenanya jangan terlalu lama menyimpan air beroksigen, ia akan berubah kembali menjadi air biasa. Walaupun disimpan dalam botol tertutup, oksigen dapat menembus botol kemasan plastik (polimer) yang berpori halus.
Produk air beroksigen merupakan sebuah kemajuan. Lahirnya produk ini disebabkan manusia membutuhkan air minum yang sehat, bukan sekadar untuk menghilangkan dahaga. Air memiliki fungsi fisiologis yang sangat penting dalam menentukan derajat kesehatan. Sekitar 70 persen bobot orang dewasa berupa air. Implikasinya terhadap kesehatan cukup signifikan. Apabila air yang kita konsumsi berkualitas buruk, maka kesehatan kita menurun. Sebaliknya, jika air yang kita konsumsi berkualitas baik, maka kesehatan kita meningkat.
Keberadaan oksigen terlarut dalam air minum memberikan dampak positif bagi kesehatan. Air ini mampu meningkatkan suplai oksigen ke setiap sel tubuh, melarutkan zat gizi, dan mendistribusikannya ke seluruh tubuh, merangsang kelangsungan hidup sel, mengatur suhu tubuh, serta melarutkan bahan-bahan berbahaya dan zat buangan ke luar tubuh. Efektivitas berbagai fungsi tersebut dipengaruhi oleh kualitas air itu sendiri, kondisi kesehatan tubuh, interaksi dengan zat gizi lain serta antibiotik dan obat-obatan.
Air heksagonal
Air heksagonal, seperti halnya air biasa, tersusun atas H2O Yang membedakan air ini dengan air biasa atau air beroksigen adalah formasi kelompok molekul H2O.
Air merupakan rangkaian/kumpulan molekul H2O. Rangkaian tersebut terbentuk karena ada sejumlah gaya yang bekerja sehingga memungkinkan molekul H2O membentuk formasi yang khas. Pada air biasa (juga pada air beroksigen) lima molekul H2O berkelompok membentuk formasi pentagonal (segi lima). Selanjutnya kelompok-kelompok tersebut membentuk rangkaian berupa air seperti yang kita jumpai sehari-hari. Pada air heksagonal, enam molekul H2O berkelompok membentuk formasi heksagonal (segi enam). Fenomena ini terjadi karena air dipengaruhi oleh magnet dan radiasi elektrik tertentu (gelombang panjang infra merah).
Terkait dengan perbedaan struktur tersebut, air dikelompokkan menjadi dua jenis.
Pertama, Bounding water. Yaitu air dengan formasi rangkaian molekul H2O yang cenderung membentuk kelompok besar dan tidak stabil. Air ini biasanya membentuk formasi pentagonal, antara lain air botolan (H2O) 36-46, air keran (H2O) 50-60, air tanah (H2O) 70-80, serta air tercemar dan air rebusan (H2O) 200-300.
Kedua, Clustered water. Yaitu air dengan formasi rangkaian molekul H2O yang cenderung membentuk kelompok kecil dan stabil, misalnya air heksagonal (H2O)6.
Secara alami, air heksagonal terdapat di alam. Namun keberadaannya semakin langka karena pencemaran di muka bumi yang semakin parah. Tetapi dengan kemajuan teknologi, kita mampu membuat air heksagonal.
Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk membuat air ini antara lain; 1) air harus bersih dengan oksigen terlarut lebih dari jumlah maksimum, 2) jumlah mineral esensial harus cukup, terutama Ca2+ sebagai agen pembuat formasi heksagonal yang terlarut dalam air, 3) memiliki pH sekitar 7,1-7,4, dan 4) suhu air normal mendekati dingin. Selanjutnya air tersebut diionisasi dengan menggunakan energi fisik dan elektromagnetik serta dikombinasikan dengan tembakan gelombang sinar infra merah.
Satu contoh praktis untuk menguji air heksagonal atau tidak adalah dengan menggunakan kecap asin. Sediakan 2 gelas kaca dan masukkan 4 sendok makan kecap asin ke masing-masing gelas. Gelas pertama rendam pada mangkok yang berisi air biasa. Gelas kedua rendam pada mangkok berisi air heksagonal. Setelah dibiarkan selama 30 menit, kecap asin yang ditempatkan pada air heksagonal berkurang rasa asinnya.
Sementara, pada air biasa rasa asinnya tetap. Perbedaan ini disebabkan karena air heksagonal berbentuk kelompok kecil sehingga lebih mudah menembus dinding gelas kaca (melalui proses osmosis) dan bercampur dengan kecap asin yang ada di dalamnya.
Manfaat air heksagonal
Air heksagonal memiliki perbedaan dengan air biasa. Perbedaan ini berpengaruh terhadap perjalanan reaksi biokimia di dalam tubuh. Sifat air heksagonal yang membentuk kelompok kecil (H2O)6 dan stabil sangat menguntungkan kesehatan tubuh manusia. Ia lebih mudah masuk ke dalam sel, mengaktifkan proses metabolisme sel, dan menghasilkan lebih banyak energi. Selanjutnya, ia juga lebih efektif melarutkan dan membuang zat sisa metabolisme yang bersifat racun bagi tubuh.
Cairan tubuh manusia terdiri atas tiga golongan. Air heksagonal menempati porsi terbesar yaitu 62 persen. Air pentagonal 24 persen, dan sisanya 14 persen berbentuk tetrahedral yang terkait satu sama lainnya membentuk rantai. Oleh karena itu tubuh kita sangat membutuhkan air heksagonal. Penurunan volume air heksagonal dalam cairan sel tubuh hingga 50-60 persen akan menyebabkan kematian. Bahan pengawet dan pewarna makanan, antibiotik, logam berat pada ikan tercemar, residu pestisida pada buah dan sayuran, radiasi, alkohol, stres serta depresi dapat merusak air heksagonal dan meningkatkan volume air pentagonal di dalam cairan sel tubuh.
Bahkan, faktor-faktor tersebut bisa secara langsung memicu terbentuknya sel kanker. Apabila sel kanker ini mati, pengaruhnya bagi tubuh tidak berbahaya. Tetapi jika sel tersebut tetap hidup, ia akan memengaruhi sel lainnya sehingga kanker makin meluas.
Keberadaan air heksagonal sangat positif bagi kesehatan tubuh. Ia dapat meningkatkan kualitas cairan sel tubuh, memberikan lebih banyak energi pada sel, membantu melindungi inti sel dari zat sisa metabolisme, meningkatkan kemampuan sel menetralisir dan membuang toksin, meningkatkan kandungan oksigen dan daya serap terhadap zat gizi, serta meningkatkan kemampuan sel untuk memperbaiki diri.
Air beroksigen memiliki karakteristik hampir sama dengan air biasa, hanya kandungan oksigen terlarutnya lebih banyak. Sementara air heksagonal, selain mengandung oksigen lebih banyak, juga formasi struktur molekul H2O-nya berbeda. Sehingga sifat-sifat lainnya agak berbeda, baik dengan air biasa maupun beroksigen.
Kemampuan air mengikat oksigen sangat terbatas sehingga oksigen terlarutnya dapat lepas kembali. Begitupun dengan air heksagonal, ia dapat rusak oleh suhu, sinar matahari, atau sebab lainnya. Oleh karena itu sebaiknya jangan terlalu lama menyimpan keduanya. Meskipun air beroksigen dan air heksagonal memiliki kelebihan dibandingkan dengan air biasa, keduanya bukan obat yang dapat menyembuhkan penyakit. Air hanya mendukung terciptanya kesehatan yang lebih optimal sehingga tubuh mampu melindungi diri dari ancaman penyakit
Air Minum Beroksigen & Heksagonal
Dengan alasan gaya hidup sehat, air minum dengan kandungan oksigen dan heksagonal gencar dipasarkan. Katanya, sih, bisa bikin badan jadi lebih fit. Padahal ada teori yang menyatakan, kalau oksigen terlalu banyak masuk ke dalam tubuh, bisa memicu timbulnya radikal bebas. Jadi?
Apa beda air minum dalam kemasan dengan air biasa? Menurut Dr. Rimbawan dari Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga Fakultas Pertanian, IPB, “Umumnya, air minum biasa (air minum dari keran rumah) hanya memiliki kandungan oksigen 5 – 7 ppm/liter, sementara air minum dari mata air pegunungan memiliki 10 – 12 ppm/liter. Air ini terasa lebih dingin dan sejuk karena kandungan oksigennya yang lebih tinggi.”
Air minum dari mata air pegunungan biasanya terasa lebih segar saat diminum. “Bisa diasumsikan, bila kandungan oksigen dalam air lebih banyak, air pun lebih segar. Semakin rendah temperatur, oksigen yang terlarut dalam air meningkat. Ini seperti ketika kita minum air es. Rasanya lebih segar dibanding air biasa. Intinya, oksigen membuat tubuh menjadi lebih segar,” paparnya.
Namun, secara alamiah, kebutuhan tubuh akan oksigen diperoleh melalui saluran pernapasan. Semua proses dalam tubuh manusia memerlukan oksigen. Oksigen dihirup melalui hidung, masuk ke paru-paru. Tapi udara yang tercemar polusi membuat kandungan oksigen pun makin rendah.
OKSIGEN MENINGKAT
Salah satu upaya meningkatkan kadar oksigen yang masuk ke dalam tubuh adalah dengan air minum kemasan. “Dalam air minum kemasan, kadar oksigennya ditambah sehingga ada yang disebut air minum beroksigen dan air heksagonal,” jelas Rimbawan.
Bentuk molekul air dalam keadaan normal seperti huruf V. Secara alamiah, kandungan oksigen dalam air biasa masih rendah. Kemajuan ilmu pengetahuan membuat kadar oksigen dalam air dipaksa meningkat. “Namun, begitu air berubah menjadi es, bentuknya akan tertata rapi dan muncul rongga-rongga. Ini membuat oksigen terjerembap masuk di dalamnya,” terang Rimbawan.
Teknik inilah yang dipakai produsen untuk meningkatkan kadar oksigen dalam air. Sementara teknik pembuatan air heksagonal memerlukan teknologi yang lebih kompleks. Kandungan oksigen pada heksagonal pun lebih tinggi dibanding air minum beroksigen. Secara teori, kandungan oksigen dalam air mendatangkan manfaat positif bagi tubuh.
Namun, teknologi ini masih menyimpan pertanyaan besar. “Apakah benar oksigen yang terlarut dalam air tersebut dapat bertahan hingga bisa diserap usus?” ujar Rimbawan yang mengakui, penelitian tentang kadar oksigen dalam air minum kemasan belum banyak dilakukan.
Salah seorang yang melakukan penelitian tentang penyerapan air beroksigen dalam usus adalah Prof. Dr. Olaf Adam dari Lembaga Farmakologi dan Toksikologi Walter Straub di Universitas Ludwig-Maximilian, Munich, Jerman.
“Hasilnya, asal kadarnya 80 ppm dan diberikan percobaan pada kelinci, ternyata dapat meningkatkan oksigen dalam darah. Tapi percobaan ini belum dilakukan pada manusia,” lanjut Rimbawan.
Tentang pembuatan air minum beroksigen dan air heksagonal, lanjutnya, “Tujuannya memang bagus, meningkatkan kadar oksigen dalam tubuh. Tapi harus dipastikan tubuh memang benar-benar memerlukan dan membutuhkan tambahan oksigen. Sebab, belum diketahui secara pasti, apa efek samping konsumsi air beroksigen secara terus-menerus.”
Menurut Rimbawan, ada beberapa kriteria seseorang dikatakan membutuhkan tambahan oksigen dalam tubuhnya. Di antaranya, mereka yang merasa cepat lelah saat berolahraga. “Ada juga penelitian yang menunjukkan seorang olahragawan yang diberi minum air beroksigen, phyisical endurance-nya menjadi lebih lama, kurang-lebih 28 detik. Untuk seorang pelari, waktu 28 detik ini tentu sangat berarti. Tapi ini juga masih kontroversial, karena buktinya masih terbatas,” ungkap Rimbawan
AWAS RADIKAL BEBAS
Gencarnya iklan air minum beroksigen dan air heksagonal membuat masyarakat mulai berpikir untuk mengonsumsinya. Kampanye gaya hidup yang lebih sehat dengan meminum air berkualitas prima pun didengungkan. Beberapa yang sudah mencoba mengaku stamina tubuhnya meningkat. Bahkan, ada yang mengklaim air tersebut mampu menyembuhkan penyakit dan mengeluarkan racun dari dalam tubuh.
Rimbawan terkesan berhati-hati menyikapi fenomena ini. Kemasan air minum beroksigen dan air heksagonal sekilas mirip dengan air biasa. Hal ini tak jarang membuat masyarakat mengonsumsinya tanpa batas. “Padahal, ada teori yang menyatakan, radikal bebas akan terbentuk ketika oksigen yang masuk ke dalam tubuh terlalu tinggi. Jika terlalu banyak, kemungkinan oksigennya akan menjadi reaktif. Ini dapat memicu radikal bebas,” terang Rimbawan.
Padahal, lanjutnya, radikal bebas tersebut dapat memicu beberapa penyakit, di antaranya kanker. Jadi, kata Rimbawan, “Sebaiknya lebih hati-hati mengonsum air minum yang mengandung oksigen.”
JERNIH & TANPA RASA
Sekitar 70 persen berat tubuh manusia dewasa berupa air. Normalnya, seseorang memerlukan 1,5 liter air setiap hari. Kualitas air yang diminum seseorang harus sesuai dengan standar kesehatan. “Masyarakat sebaiknya memerhatikan kualitas air yang mereka konsumsi. Air yang sehat tentu air yang bebas dari pencemaran,” kata Rimbawan. Indikasinya, “Jernih, tidak berbau dan tidak berasa.”
OKSIGEN BERKURANG JIKA…
Dosen IPB ini menyarankan masyarakat agar memerhatikan kemasan dan cara konsumsi yang benar dari air minum beroksigen. Kestabilan kadar oksigen dalam air sangat rentan dan faktor temperatur memegang peran penting. “Semakin tinggi temperatur, makin besar kemungkinan kandungan oksigen dalam air berkurang,” jelas Rimbawan.
Temperatur tinggi juga membuat kadar oksigen mudah terlepas. Jadi, air minum beroksigen dan air heksagonal tak boleh terkena sinar matahari secara langsung dan dalam waktu yang cukup lama. “Kemasan dan penyimpanannya harus benar-benar diperhatikan. Terutama setelah segel atau tutupnya dibuka.”
Sebuah penelitian terhadap salah satu merek air minum beroksigen memperlihatkan, setelah dibuka selama 3 hari, kandungan oksigen yang semula 120 ppm turun menjadi 80 ppm. Bila itu terjadi, “Air beroksigen atau air heksagonal pun akhirnya berubah menjadi air minum biasa.”
Bagaimana dengan air beroksigen yang kini diberi aneka rasa, misalnya rasa stroberi atau jeruk? “Sebetulnya sama saja. Bedanya cuma diberi perasa,” ujar Rimbawan. (Nova).
Hubungan Sastra dengan Bahasa Indonesia dan Bahasa Banjar
Mahmud Jauhari Ali
BANJARMASIN POST
Bahasa merupakan unsur penting dalam dunia sastra. Bahasa digunakan sastrawan sebagai media untuk menyampaikan ide atau gagasannya kepada masyarakat luas. Dalam dunia sastra, bahasa dapat dikatakan sebagai “jembatan” yang menghubungkan sastrawan dan masyarakat luas. Ada sebagian orang menganggap bahasa sastra berbeda dengan bahasa dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebenarnya keduanya sama saja. Jika antara yang satu dengan yang kedua berbeda, masyarakat luas tidak akan mengerti bahasa yang digunakan sastrawan dalam karya sastra yang diciptakannya. Padahal pada kenyataannya bahasa sastra dimengerti oleh masyarakat luas. Hal yang terakhir ini menunjukkan bahwa bahasa sastra dan bahasa dalam kehidupan nyata kita sehari-hari adalah sama.
Dalam kaitannya dengan sastra di Indonesia, bahasa Indonesia dan bahasa daerah termasuk bahasa Banjar menjadi unsur penting yang digunakan sastrawan untuk menyampaikan ide-idenya kepada masyarakat luas sebagai penikmatnya. Bahasa Indonesia dipakai dalam puisi, prosa piksi seperti cerpen dan novel, dan drama di Indonesia. Bahasa daerah termasuk bahasa Banjar juga dipakai dalam karya sastra di Indonesia seperti dalam cerpen dan pementasan teater tradisional khas Banjar, yakni mamanda.
Hal di atas menunjukkan bahwa bahasa Indonesia dan bahasa Banjar penting dalam kehidupan dunia sastra di tanah air kita. Jika demikian halnya, apakah dunia sastra juga penting dalam kehidupan bahasa Indonesia dan bahasa Banjar di tanah air kita? Jawabannya adalah ya. Mengapa jawabannya adalah ya? Jawaban atas pertanyaan yang terakhir ini dapat Anda temukan dalam paparan berikut ini.
Sebagaimana yang telah dipaparkan di atas bahwa sastrawan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Banjar dalam karya sastra yang diciptakannya untuk berkomunikasi dengan masyarakat penikmatnya. Hal ini berarti bahwa dalam sastra, bahasa menjadi unsur yang langsung disentuh masyarakat luas. Kita sebagai masyarakat luas langsung membaca atau mendengarkan bahasa Indonesia atau pun bahasa Banjar dalam karya sastra yang kita baca atau kita dengarkan dalam pementasan. Dengan kata lain, yang kita baca atau kita dengarkan dalam karya sastra adalah bahasa Indonesia atau bahasa Banjar. Jika bahasa Indonesia dan bahasa Banjar yang digunakan sastrawan dalam karya sastra, berarti dengan membaca atau mendengarkan bahasa dalam karya sastra tersebut masyarakat luas pun menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Banjar. Dengan demikian, bahasa Indonesia dan bahasa Banjar digunakan sastrawan dan masyarakat penikmatnya sehingga kedua bahasa ini akan bertambah lestari. Dengan kata lain kehidupan bahasa Indonesia dan bahasa Banjar akan bertambah lestari dengan adanya dunia sastra di Indonesia.
Jadi, sastra Indonesia dan sastra Banjar dengan bahasa Indonesia dan bahasa Banjar saling menunjang satu sama lain. Jika kita menggunakan istilah biologi, hubungan sastra Indonesia dan sastra Banjar dengan bahasa Indonesia dan bahasa Banjar kita katakan sebagai simbiosis mutualisme. Berdasarkan paparan di atas, kita perlu membaca karya sastra dalam bentuk buku maupun dalam media cetak dan mendengarkan karya sastra yang dipentaskan jika kita ingin bahasa Indonesia dan bahasa Banjar bertambah lestari. Dewasa ini sudah banyak karya sastra yang diterbitkan dalam bentuk tulisan di Indonesia. Kita dapat membaca karya-karya sastra yang telah diterbitkan tersebut. Kita juga dapat mendengarkan karya sastra yang dipentaskan. Selain itu jika ingin menjadi sastawan, Anda dapat pula belajar menjadi sastrawan dalam upaya melestarikan bahasa Indonesia dan bahasa Banjar di tanah air yang kita cintai in
ARTIKEL PENDIDIKAN
PENDIDIKAN HOME SCHOOLING … ? SUDAH ADAPTIFKAH DENGAN PENDIDIKAN DI INDONESIA
Oleh : Andi Trinanda
Akhir-akhir ini kita sering saksikan mulai banyak bermunculan sekolah-sekolah dengan alternatif pendekatan dan metodologi pengajaran “link & mach yang cenderung praktis dan katanya lebih efektif mengelaborasi esensi pendidikan dengan aplikasi skill peserta didik. Program pendidikan tersebut sering kita kenal dengan istilah home schooling. Diseluruh dunia terdapat kurang lebih 6 juta home schooling tersebar di berbagai negara, termasuk Indonesia. Walaupun bagi kalangan praktisi pendidikan sendiri substansi pendidikan home schooling secara simplistis inheren dengan SMP terbuka, SMA terbuka, Universitas terbuka atau yang sekarang sedang trend adalah e-learning, namun memang ada kecenderungan bahwa home schooling agak “berbeda” jika dilihat dari tingkat fleksibilitas dan metodologi pengajarannya. Fleksibilitas konsep pendidikan home schooling memang an-sich mengacu kepada kompetensi praktis hubungan antara ketertarikan/kemauan dan hoby individual (baca : siswa) dengan orientasi cita-citanya bekerja atau menguasai bidang-bidang tertentu yang menjadi harapannya dalam bekerja. Fleksibilitas tersebut juga diukur dari metode belajar-mengajar yang tidak “terbelenggu” oleh dimensi ruang dan waktu secara formal serta menjamin tingkat kompetensi terealisir dengan baik. Dengan kata lain konsepsi link & mach memang cenderung lebih efektif jika para siswa belajar dalam tataran konsep pendidikan model ini. Apalagi jika kalangan dunia industri sudah menjalin kerja sama dan membangun hubungan dengan lembaga pendidikan home schooling misalnya mengenai pola standard alternatif bagi kompetensi para lulusan (baca : dalam hal ijasah dan nilai) yang selama ini menjadi domainnya pemerintah.
Untuk menelaah lebih jauh tentang bagaimana pendidikan home schooling ini bisa lebih progresif berkembang di Indonesia, tentu tidak terlepas dari paradigma berfikir masyarakat yang mulai cenderung kritis dan selektif dan tentu saja evaluatif terhadap hasil yang sudah dicapai oleh pendidikan formal yang dikemas dan didesain oleh pemerintah. Secara empiris barangkali salah satu faktor yang mempengaruhi mengapa terjadi pergeseran dinamika pemikiran masyarakat terhadap pola pendidikan di Indonesia adalah salah satunya dikarenakan para orang tua murid sudah begitu menyadari bahwa sudah lama pendidikan kita di “hantui “oleh tingginya kekerasan sosiologis yang selama ini terjadi dalam interaksi dunia pendidikan kita. Kasus tawuran, seks bebas dan narkoba dikalangan pelajar dengan jumlah korban jiwa yang tidak sedikit adalah salah satu faktor yang menyebabkan para orang tua terbangun landasan berfikirnya untuk melakukan terobosan mencari pendidikan alternatif yang relatif “aman” buat anak-anaknya dan rezim diktatorianisme pendidik terhadap peserta didik yang selama ini menjadi budaya dalam pola pendidikan kita juga telah membuka mata sebagian masyarakat terutama para orang tua murid untuk lebih mempertimbangkan putra-putrinya untuk sekolah di pendidikan formal. Realitas lain yang perlu dicermati mengapa pendidikan home schooling ini menjadi pilihan alternatif masyarakat adalah ketika masyarakat mulai menyadari bahwa sebenarnya pola pendidikan formal di Indonesia belum menyentuh substansi kebutuhan riel tantangan dalam era globalisasi yang harus di respon secara kualitatif oleh peserta didik dengan menyiapkan kompetensi yang relevan dan obyektif terhadap kebutuhan skill mereka ketika mereka beraktivitas (bekerja atau berwirausaha). Memang selama ini bagi sebagian kalangan praktisi pendidikan, mereka menjustifikasi bahwa kebutuhan kompetensi tersebut tetap menjadi skala prioritas yang harus terus dikembangkan dalam setiap jenjang kurikulum. Melalui kurikulum berbasis kompetensi (KBK), dan sekarang berubah lagi menjadi kurikulum berbasis pengetahuan terpadu ditambah kurikulum lokal yang terus berganti. Konsep dan desain penerapan kurikulum tersebut dilakukan dengan pendekatan pemikiran dan teori tentang kecerdasan berganda, kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional dengan asumsi bahwa mereka (baca : para pakar dan praktisi pendidikan) menganggap bahwa setiap insan haruslah perlu diakui dan dihargai modalitas belajarnya. Para praktisi pendidikan menerapkan desain konsep pendidikan dalam berbagai strata dengan berupaya mengelaborasi tingkat intelektualitas ide dan gagasan akademiknya dengan pendekatan teoritical education an sich. Kecenderungan teoritical yang intens tersebutlah yang pada akhirnya menimbulkan problematik teoritis dalam dunia pendidikan kita. Implikasinya bisa kita lihat dari terlalu seringnya kurikulum berganti tanpa visi baik content maupun format penerapannya di lapangan. Akibatnya pula bukan cuma para guru yang kesulitan mengintepretasikan dan mengimplementasikan program kurikulum yang dibuat pemerintah, para siswa pun akhirnya “terbelenggu”untuk menerima konsep dan program pendidikan tersebut tanpa reserve. Kasus kontroversi output penerapan standard kelulusan untuk siswa yang baru-baru ini terjadi semakin menjadi salah satu pemicu kuat bagaimana persoalan standard dalam dunia pendidikan juga menjadi salah satu faktor penting mengapa masyarakat mulai beralih untuk lebih jauh melihat standard bukan secara lokal namun sudah jauh ke standard yang lebih bersifat mondial misalnya standard Amerika sampai standard ketaraf Internasional semisal lembaga pendidikan yang menerapkan sistem ISO dalam program pendidikannya. Dan salah satu aspek yang diangkat oleh program pendidikan home schooling ini adalah standard kompetensi internasional tersebut. Maka terjawab sudah bagaimana seharusnya stakeholders (pihak yang terlibat dan berkepentingan dalam dunia pendikan) termasuk dalam konteks ini juga pihak perusahaan dan instansi yang menampung dan mengakomodir kebutuhan tenaga kerja para lulusan untuk concern menyikapi maraknya pendidikan alternatif semisal home schooling ini dalam perspektif yang lebih otonom dan komprehensif, termasuk didalamnya memberikan solusi tentang otoritas standard kelulusan dan formalisasi pendidikan yang di atur secara baku dan menjadi domain pemerintah.
Tinggal persoalannya adalah sejauhmana masyarakat lebih selektif memilih pendidikan home schooling ini, tidak semata-mata karena faktor status sosial karena memang biaya program pendidikan ini tidak sedikit (atau sekedar trend) saja. Melainkan karena memang masyarakat kita sudah memahami bagaimana konstalasi dan dinamika dunia pendidikan di era globalisasi ini yang menuntut segi otentitas dan kultur lingkungan mondial berkaitan dengan skill dan kompetensi. Kredibilitas program pendidikan home schooling ini bukan hanya diukur dari tingkat fleksibilitas dan kesan informalistik dengan nuansa yang lebih persuasif dan menyenangkan saja, dimensi belajar mengajar yang tidak terbelenggu oleh ruang dan waktu dengan model on the job method maupun off the job method, garansi dan konsepsi link & mach dengan dunia usaha dan industri dan sebagainya. Namun tingkat kredibilitas program pendidikan home schooling ini juga di dasarkan atas legitimasi yang diberikan pemerintah. Apakah pemerintah mau lebih bersikap inklusif atau eksklusif dalam menyoal eksistensi program pendidikan home schooling ini yang nota bene bisa saja mengklaim dirinya setingkat dengan strata pendidikan yang sudah baku di Indonesia. Terlepas memang setiap program pendidikan yang diterapkan di Indonesia apapun itu bentuknya tidak menjamin semua aspek kognitif dan sosial peserta didik terakomodir dengan baik. Seperti halnya program pendidikan home schooling ini yang nota bene jelas tidak menspesifikasikan diri pada aspek sosialisme interaksi dan proses transformasi budaya dan sifat komunitas, namun cenderung individualistik.
* Penulis adalah praktisi pendidikan dan dosen di salah satu perguruan tinggi sawsta di Jakarta . Disamping mengajar juga aktif sebagai ketua kelompok studi “SEMBILAN” di Jakarta.

|
Welcome to Student Blogs. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!